Jumat, 01 Desember 2017

PELAKSANAAN BACA TULIS QURAN JAM Ke-0 DI MIS KURIPAN KIDUL

       I.            PENDAHULUAN
Sejalan dengan Undang Undang N0. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yag bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.
Untuk mencapai tujuan dan fungsi Pendidikan Nasional itu, maka ditetapkan Pendidikan Agama sebagai mata pelajaran wajib yang harus diikuti oleh peserta didik. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, menguraikan bahwa ruang lingkup PAI meliputi aspek Al Qur’an, Hadits, Fiqh, Akhlak, Aqidah, dan Tarikh. Aspek al Qur’an menjadi aspek prioritas karena itu pembelajaran aspek ini meliputi membaca, menulis dan menghafal al Qur’an dipandang perlu dipertajam dalam pembelajaran PAI di sekolah. Pelaksanaan bimbingan al Qur’an juga sejalan dengan PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pasal 24 dan 25 yang menjelaskan bahwa, pendidikan al Qur’an bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam hal membaca, menulis, menghafal, memahami dan mengamalkan kandungan al Qur’an. Mengingat hal itu disusun program pembelajaran ekstrakurikuler al Qur’an dalam program  Baca Tulis Al Qur’an (BTQ).
Pada dasarnya sama seperti kurikulum yang lainnya, landasan filosofis kurikulum BTQ lebih merujuk kepada Al-Quran (ajaran Islam) dengan tujuan bahwa peserta didik setidaknya mampu membaca dan menulis Al-Quran, yang merupakan kitab suci umat Islam. Alasannya bahwa Indonesia itu merupakan suatu bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan kemampuan baca tulis Al-Quran merupakan keterampilan yang paling mendasar dan paling urgen. Selain itu keadaan Islam di Indonesia ini mulai memudar yang dibuktikan dengan adanya beberapa hasil riset; banyak pelajar SMP, SMA/SMK bahkan Mahasiswa Perguruan Tinggi belum lancar membaca Al-Quran karena terbatasnya jam tatap muka PAI sehingga perlu dikembangkan melalui bimbingan BTQ di luar kelas. Oleh karenanya diharapkan dengan diterapkannya kurikulum BTQ ini ruh Islam yang tadinya hampir mati dapat hidup kembali dengan adanya proses regeneralisasi oleh kader-kader Islam selanjutnya yang di hasilkan dari siwa-siswi atau lulusan sekolah yang menerapkan kurikulum BTQ ini.
MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan dalam menerapkan program BTQ mengikuti program yang telah dicanangkan oleh Kemendiknas, Kemenag maupun program yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Pekalongan yang tertuang dalam Perda No. 12 tahun 2015 tentang Baca Tulis Al Quran dengan peserta didik dari SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA khusus yang beragama Islam.
Program itu sudah dijalankan dengan perencanaan secara matang, dengan tujuan secara jelas juga, namun dalam pelaksanaannya masih saja ditemukan kendala. Untuk itu perlu adanya evaluasi program itu secara cermat .


    II.            PERMASALAHAN
Dari latar belakang yang dipaparkan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana Profil Program BTQ di MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan ?
2.      Bagaimana Evaluasi Program BTQ di MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan ?





 III.            PEMBAHASAN MASALAH

1.       PROFIL PROGRAM BTQ DI MIS KURIPAN KIDUL KOTA PEKALONGAN
a.      Nama Program
Pada hakekatnya Baca Tulis Quran (BTQ) adalah mengajarkan Al-Qur’an pada anak yang merupakan suatu proses pengenalan Al-Qur’an tahap pertama dengan tujuan agar siswa mengenal huruf sebagai tanda suara atau tanda bunyi. Yang paling penting dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an adalah keterampilan membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah yang disususun dalam ilmu Tajwid.[1]
Dalam proses siswa belajar membaca Al-qur’an akan menemui beberapa kesulitan. Salah satu kesulitan membaca Al-Qur’an bagi anak-anak adalah karena ayat- ayatnya terdapat kalimat yang panjang sehingga mengakibatkan kurang lancar, bahkan tidak fasih dalam membaca. Kesulitan tersebut diakibatkan karena pada tingkat dasar belum sepenuhnya memahami ilmu tajwid, dan biasanya para guru mengajarkan secara praktis, sehingga seringkali anak sekedar menghafal saja. Padahal dalam masalah ini, pembelajaran BTQ akan berkelanjutan untuk pegangan siswa pada tingkatan belajar selanjutnya.[2] Dalam kegiatan belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan, pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran tertentu yang langsung berkesinambungan dengan keterampilan siswa sebagai strategi belajar sangatlah diperlukan. Belajar sebagai proses bagi seseorang untuk memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap.
Salah satu upaya yang dikembangkan guru dalam kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa yang positif yaitu dalam kemampuan membaca Al-Qur’an. BTQ adalah bagian materi Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar atau Madrasah Ibtidaiyah yang selama ini kurang mendapat perhatian yang lebih besar, padahal banyak sekali masyarakat yang mengeluh bahwa lulusan SD/MI banyak yang belum dapat membaca Al-Qur’an secara benar sesuai dengan ilmu tajwid. Ini menjadi kekhawatiran semua guru Agama Islam, karena diharapkan pendidikan SD/MI adalah dasar bagi pembentukan diri anak. Akan sangat sulit sekali ketika anak tidak menguasai BTQ sejak dini untuk dapat membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.
Baca tulis Alquran merupakan salah satu mata pelajaran yang masuk dalam kurikulum muatan lokal, dimana Baca tulis Alquran merupakan usaha secara sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam membaca dan menulis permulaan huruf-huruf hijaiyah, memahami dan mengamalkan Alquran sebagai kitab suci agamanya.[3]
Dari beberapa pernyataan diatas maka MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan menyelenggarakan program baca tulis Quran ( BTQ ) yang dijadikan ekstrakurikuler wajib untuk semua peserta didik dari kelas  I sampai kelas VI yang dilaksanakan setiap hari .

b.      Dasar Penyelenggaraan
Program baca tulis quran ( BTQ ) di MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan ini didasarkan pada  :
1)      Undang Undang N0. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan Nasional
2)      PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan
3)      Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
4)      Instruksi Menteri Agama RI N0 3 Tahun 1990 tentang Upaya Peningkatan Kemampuan BTHQ.
5)      SKB Menteri Agama dan Mendagri RI Nomor  44 A dan 124, tanggal 13 Mei Tahun 1982 tentang Usaha Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an bagi Umat Islam.
6)      Peraturan  Direktur  Jenderal  Pendidikan Islam Kemenag RI No: Dj.I/12A Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Ekstrakurikuler Pendidikan Agama Islam.
7)      Perda Kota Pekalongan No. 15 Tahun 2015 tentang BacaTulis  Al Quran bagi peserta didik SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK yang beragama Islam

c.       Tujuan
Tujuan program Baca  Tulis Quran (BTQ) ini adalah : [4]
1)      Peserta didik mampu membaca dan menulis Al Quran  dengan baik dan benar
2)      Membiasakan diri membaca dan mencintai Al Quran serta mengaplikasikan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.
3)      Mampu menghafal surat-surat pendek dalam Al Quran dan memahami isi kandungan Al Quran sebagai bekal dalam kehidupan.



d.      Waktu dan Tempat
Pragram ekstrakurikuler BTQ di MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan ini dilaksanakan setiap pada jam ke-0, artinya dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, tepatnya mulai jam. 06.30 WIB sampai dengan 07.15 WIB [5]
Adapun tempat yang  digunakan untuk melaksanakan program ekstrakurikuler BTQ itu adalah di kelas masing-masing, dari kelas 1 – 6

e.       Indikator Yang Ingin Dicapai
Indikator yang ingin dicapai dari program ekstrakurikuler BTQ ini diantaranya adalah :
1)      Untuk memperkokoh akidah melalui pemberian, pamupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan melalui kajian al Qur’an
2)      Untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
3)      Untuk meningkatkan kompetensi membaca, menulis dan menghafal al Qur’an.
4)      Untuk menumbuhkan peserta didik gemar membaca al Qur’an
5)      Untuk memberikan habituasi kepada peserta didik dan mengamalkan isi kandungan al Qur’an

f.       Persoalan yang Dihadapi
Semua program yang telah direncanakan dengan perencanaan yang matang, dalam pelaksanaanya selalu ditemukan adanya problemantikanya, bukan perencanaannya yang belum tepat, namun situasi dan kondisi yang terjadi pada pelaksanaan programlah yang menjadi alasan semua itu. Dengan ditemukanya persoalan yang dihadapinya itu maka akan dilakukan evaluasi secara mendalam sehingga program yang telah direncanakan dan dilaksanakan itu  akan mengalami pengembangan secara signifikan kearah yang lebih baik untuk menuju tujuan akhir yang di rencanakan dari program itu.
Program baca tulis Al quran di MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan juga ditemukan beberapa persoalan diantaranya :
1)      Animo peserta didik terhadap program itu kurang tinggi hal ini disebabkan karena peserta didik seluruhnya telah mengikuti kegiatan TPQ pada sore harinya juga mengikuti pengajian Al Quran pada malam harinya, sementara program BTQ relatif sama materinya baik yang di TPQ maupun pengajian Al Quran pada malam hari .
2)      Karena waktu pelaksanaan program BTQ itu dilaksanakan pada jam ke-0 yaitu jam 06.30-07.15 WIB, dirasa sangat  memberatkan peserta didik yang imbasnya pada orang tua murid karena harus mempersiapkan anak-anaknya pada jam 06.00 WB harus sudah berangkat, sehingga ditemukan pada banyak peserta didik yang tidak sempat sarapan pagi, banyak juga ditemukan peserta didik selalu terlambat dalam mengikuti kegiatan BTQ itu, bahkan ada peserta didik yang sama sekali tidak mengikutinya kususnya pada kelas rendah .
3)      Keterbatasan waktu yang tersedia dari jam 06.30-07.15 WIB itu, sementara cakupan materi yang begitu banyak, dengan jumlah peserta didik juga relatif banyak tiap kelasnya, sementara dalam satu kelas di ampu oleh satu ustadz/ustadzah saja, maka pelaksanaan program BTQ itu menjadi kurang efektif. Belum lagi dengan metode pembelajaran yang mengharuskan setiap peserta didik  membaca qiro’ati satu persatu didepan ustadz / ustadzah tentu ini akan membutuhkan waktu yang relatif panjang sehingga ketersediaan waktu yang ada itu menjadi sangat kurang.
4)      Keterlibatan pimpinan maupun dewan guru terhadap program BTQ jam ke-0 juga merupakan persoalan yang terlihat, hal ini karena pada pelaksanaan program BTQ itu ustadz / ustadzah yang mengampu adalah mereka yang diberi surat tugas oleh Wali Kota, sementara dalam pelaksanaan tugasnya, kepala dan dewan Guru MIS tidak terlibat secara langsung, artinya dalam pelaksanaan kegiatannya kepala dan dewan guru tidak ikut memantau ataupun terlibat secara langsung, sehingga terkesan program BTQ itu berdiri sendiri, sehingga efektifitas dan efisiensi program itu kurang mengena pada sasaran .
5)      Hasil evaluasi BTQ masih dipandang sebagai bentuk kegiatan yang biasa karena hanya ekstrakurikuler, artinya nilai yang dihasilkan oleh peserta didik tidak mempengaruhi terhadap keberhasilan pembelajran secara umum, padahal baca tulis Al Quran sangat mendasar sekali untuk dikuasai oleh peserta didik, namun kenyataannya ditemukan banyak peserta didik yang kurang bahkan belum berhasil lulus BTQ nya namun karena nilai penunjang yanglain dalam intrakurikulernya baik, maka peserta didik itu dinyatakan berhasil dan dapat dinaikkan ke kelas lebih atasnya. Ini berarti bahwa BTQ belum menjadi penentu berhasil dan tidaknya pembelajaran dari peserta didik dalam akhir pembelajaran .

2.      EVALUASI PROGRAM BTQ DI MIS KURIPAN KIDUL KOTA PEKALONGAN
Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan. kurikulum pendidikan merupakan bagian penting dalam pengembangan kurikulum sehingga kurikulum tak pernah statis, melainkan terus berubah dan bersifat dinamis dalam rangka memberikan kontribusi maksimal menghadapi tantangan-tantangan dan tuntutan kehidupan dewasa ini yang berkenaan dengan mutu, relevansi, efisiensi dalam sistem penyampaian. Implikasi dari tuntutan dan kondisi yang demikian menuntut evaluasi kurikulum karena evaluasi kurikulum memegang peranan penting dalam penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya dan pengambilan keputusan dalam kurikulum pada khususnya.[6]
Sasaran utama pelaksanaan penilaian dan evaluasi ditujukan untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa dapat  mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.[7] Tujuan merupakan acuan dari seluruh komponen dalam kurikulum. Baik komponen bahan, metode, maupun evaluasi.
Evaluasi atau penilaian kurikulum atau program pembelajaran merupakan salah satu bagian dari evaluasi pendidikan yang memusatkan perhatian kepada program-program pendidikan untuk peserta didik. Dalam menilai suatu kurikulum, baik kurikulum dalam pengertian program tertulis dalam buku kurikulum (ideal) maupun kurikulum yang terlaksana (aktual) ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut dapat dijadikan dasar dan pertimbangan untuk menentukan kriteria-kriteria atau indikator penilaian kurikulum. Konsep dan pemikiran yang ada dalam setiap prinsip hendaknya dijadikan tolak ukur berhasil tidaknya suatu kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Adapun prinsip-prinsip evaluasi kurikulum.
Model evaluasi yang dikembangkan banyak sekali yang semuanya  memiliki spesifikasi yang berbeda dengan metode yang berbeda juga, namun memiliki kesamaan tujuan yaitu ingin mengetahui sejauh mana program / kurikulum itu dapat diterapkan, serta sejauh mana hasil yang akhir yang dilihat, apakah sudah sesuai dengan.
Ada bermacam-macam model evaluasi yang dapat digunakan untuk mengukur suatu program pendidikan. Adapun yang akan digunakan dalam evaluasi program BTQ di MIS Kuripan Kidul ini menggunakan model Tyler.
Model Tyler adalah model yang dibangun  atas  dua  dasar  pemikiran.  Pertama,  evaluasi ditujukan  pada  tingkah  laku  peserta  didik.  Kedua,  evaluasi  harus dilakukan  pada  tingkah  laku  awal  peserta  didik  sebelum melaksanakan kurikulum dan sesudah melaksanakan (hasil). Dasar pemikiran kedua  ini menunjukkan  bahwa  seseorang  evaluator kurikulum harus dapat menentukan  perubahan  tingkah  laku  apa  yang  terjadi  setelah  peserta didik  mengikuti  pengalaman  belajar  tertentu, dan  menegaskan  bahwa perubahan  yang  terjadi  merupakan  perubahan  yang  disebabkan  oleh kegiatan kurikulum. [8]
Dari teori diatas maka penulis melakukan pengamatan terhadap tingkah laku peserta didik sebelum mengikuti program BTQ dan mengamati peserta didik setelah mengikuti program BTQ.
Dari pengamatan yang dilakukan penulis dengan tolok ukur tujuan program BTQ yang ada, didapati hasil sebagai berikut :
a.       Peserta didik mampu membaca dan menulis Al Quran  dengan baik dan benar
1)      Perilaku Peserta didik sebelum mengikuti program BTQ
Perilaku peserta didik sebelum mengikuti program BTQ tidak semuanya belum bisa membaca al quran, karena hampir semuanya telah mengikuti TPQ pada sore harinya maupun pengajian al quran pada malam harinya, namun masih ada juga yang ditemukan peserta didik yang  belum bisa sama sekali membaca al quran kususnya pada kelas rendah, maka pada kelas rendah digunakan metode qiro’ati .
2)      Perilaku peserta didik setelah mengikuti program BTQ
Setelah mengikuti program BTQ peserta didik dapat dibagi menjadi kategori dibawah ini :
a)      Ada yang membacanya lancar, kemudian disertai dengan penguasaan tajwid yang benar dan fasih,
b)      Ada yang membacanya lancar, tetapi dalam penguasaan tajwid masih ada beberapa kesalahan,
c)      Ada yang belum lancar dalam membaca Al-Quranya dan belum mengusai tajwid itu sendiri, dan
d)     Ada yang belum bisa membaca Al-Quran sama sekali, kemudian dalam tajwidnya juga baru dalam tahap orientasi atau pengenalan.
b.      Peserta didik membiasakan diri membaca dan mencintai Al Quran serta mengaplikasikan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari
1)      Perilaku Peserta didik sebelum mengikuti program BTQ
Perilaku  peserta didik sebelum mengikuti program BTQ, belum  membiasakan diri dan mencintai Al Quran karena pengamatan penulis sebagian besar peserta didik hanya membaca Al Quran saat dirinya mengikuti pengajian saja baik sore di TPQ maupun malam saat mengikuti pengajian, sedangkan sedangkan dirumah sebagian besar tidak pernah membaca, hanya sebagian kecil saja yang membiasakan membaca Al Quran karena perhatian orang tuanya .
2)      Perilaku peserta didik setelah mengikuti program BTQ
Setelah mengikuti program BTQ, ada perubahan perilaku yang relatif baik, dimana peserta didik pada kelas tinggi, yaitu  kelas 4, 5 dan 6 diperoleh keterangan daro orang tua wali murid, sudah banyak yang membiasakan membaca Al Quran, artiya al Quran tidak hanya dibaca pada saat di pengajian saja, namun sudah menjadi kebiasaan dirumahnya, namun masih ada yang tetap belum membiasakan membaca Al Quran dirumahnya kususnya pada kelas rendah yaitu kelas 1,2 dan 3. Hal ini masih wajar karena orang tua belum bisa memaksa agar anak-anaknya mau membiasakan membaca Al Quran dirumahnya. Menurut Orang tua wali Murid kelas rendah, anaknya yang masih duduk di kelas 2, sudah sangat baik mau mengikuti BTQ di madrasah, sorenya ikut TPQ dan malamnya tetap mau ikut pengajian Al Quran di Masjid .
c.       Peserta didik Mampu menghafal surat-surat pendek dalam Al Quran dan memahami isi kandungan Al Quran sebagai bekal dalam kehidupan.
1)      Perilaku Peserta didik sebelum mengikuti program BTQ
Sebelum mengikuti program BTQ kondisi peserta didik tidak semuanya belum mampu menghafal surat-surat pendek, sudah beberapa surat pendek yang dikuasai oleh peserta didik, karena mereka telah mendapatkan pembelajaran yang sama di kelas, maupun TPQ maupun pengajian dilingkungan tinggalnya. Sebagian kecil sekali yang kondisi awalnya kurang hafal dengan surat-surat pendek .
2)      Perilaku peserta didik setelah mengikuti program BTQ
Setelah mengikuti program BTQ, di dapati peningkatan yang cukup signifikan, karena sebagian besar, peserta didik sudah banyak yang hafal surat-surat pendek yang ditugaskan pada program BTQ, surat-surat pendek yang dikuasai dan dihapal itu diantaranya adalah :
Kelas
Yang telah dihafal S
I
Annas s.d An-Al-Lahab
II
An-Nashr s.d  Al-Ma’un
III
Al-Quraisy s.d  Al-’Ashr
IV
At-Takatsur s.d Al-’Adiyah
V
Az-Zalzalah s.d Al-Bayyinah
VI
Al-Qadr s.d Al-’Alaq

d.      Peserta didik dapat menyalin  Al Quran dengan baik dan benar
1)      Perilaku Peserta didik sebelum mengikuti program BTQ
Menyalin Al Quran bagi peserta didik merupakan hal yang berat, maka kondisi nya secara umum sebelum mengikuti program BTQ, mereka masih banyak yang kurang menguasai, apalagi tanpa mencontoh, mereka sebagian besar tidak bisa, namun bila mencontoh masih banyak yang dapat melakukan, hanya ditemukan masih banyak kekurangannya, baik kebenarannya maupun artistiknya .
2)      Perilaku peserta didik setelah mengikuti program BTQ
Setelah mengikuti program BTQ ditambah dengan mengikuti TPQ di sore hari maka peserta didik kususnya di kelas tinggi sudah banyak yang dapat menulis Arab, dan sudah dapat menyalin dengan benar dan baik ayat-ayat Al quran baik dengan melihat teks Al Quran maupun dengan imlak. Namun pada kelas rendah mereka dapat menulis baik dengan huruf tunggal, huruf berharokat maupun huruf yang bersambung hingga satu atau dua kata, maupun satu kalimat .

 IV.            PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari paparan yang diketengahkan diatas maka penulis mengambi kesimpulan :
MIS Kuripan Kidul Kota Pekalongan menyelenggarakan program baca tulis Quran ( BTQ ) yang dijadikan ekstrakurikuler wajib untuk semua peserta didik dari kelas  I sampai kelas VI yang dilaksanakan setiap hari pada pagi hari jam ke-0 yaitu jam. 06.00 – 07.15 WIB.
Tujuan program BTQ itu adalah :
a.      Peserta didik mampu membaca dan menulis Al Quran  dengan baik dan benar
b.      Membiasakan diri membaca dan mencintai Al Quran serta mengaplikasikan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.
c.      Mampu menghafal surat-surat pendek dalam Al Quran dan memahami isi kandungan Al Quran sebagai bekal dalam kehidupan.
Tenaga pengajar dalam program BTQ itu adalah ustadz dan ustadzah yang diangkat oleh Wali Kota Pekalongan yang direkrut melalui seleksi secara kusus dan tidak melibatkan guru di madrasah yang telah ada.
Adanya program BTQ di madrasah ini selain disana-sini masih  diketemukan prsoalan, namun di sisi lain keberadaanya sangat baik dan mendukung perubahan perilaku dari peserta didik baik kompetensi yang telah direncanakan maupun, tingkah laku secara umum di madrasah, seperti akhlak, serta kebiasaan berangkat sekolah lebih dini, sehingga jarang sekali peserta didik telat berangkat ke madrasah . 

2.      Rekomendasi
a.       Pelaksanaan program BTQ untuk lebih dipersiapkan lebih mendalam lagi, baik Pemerintah Kota Pekalongan, para Ustadz yang melaksankan program itu, agar dapat dilaksanakan dengan lebih baik sehingga tujuannya semakin tercapai.
b.      Perlu ada kerja sama dan saling mendukung dari semua stikholder di madrasah baik kepala madrasah, guru, ustadz dan wali murid untuk menyamakan persepsi dan pandangan tentang pentingnya program BTQ itu dapat bermanfaat bagi peserta didik .

  
DAFTAR PUSTAKA

 Ali,Mohammad, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung, 1992, CV Sinar Baru.
Darajat,Zakiah Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Departemen Agama Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Garis-Garis Besar Program Pengajaran Baca Tulis Alquran Sekolah Dasar Jawa Tengah (Semarang: Departemen Agama Wilayah Propinsi Jawa Tengah, 2002).
Perda Kota Pekalongan No. 15 Tahun 2015 tentang BacaTulis  Al Quran bagi peserta didik SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK yang beragama Islam,  Bab II,  pasal 5.
Raharjo, Rahmat,  Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta, 2013, Azzagrafika.
Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012.
Zuhairini dkk, Metodik Pendidikan Agama, Surabaya : Usaha Nasional, 1991



[1] Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, hlm. 92.
[2]   Zuhairini dkk, Metodik Pendidikan Agama, Surabaya : Usaha Nasional, 1991, hlm.20
[3]  Departemen Agama Wilayah Propinsi Jawa Tengah, Garis-Garis Besar Program Pengajaran Baca Tulis Alquran Sekolah Dasar Jawa Tengah (Semarang: Departemen Agama Wilayah Propinsi Jawa Tengah, 2002), hlm 63.
[4] Perda Kota Pekalongan No. 15 Tahun 2015 tentang BacaTulis  Al Quran bagi peserta didik SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK yang beragama Islam,  Bab II,  pasal 5.
[5] Ibid, Bab I, pasal 1, ayat 13
[6] Rahmat Raharjo, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta, 2013, Azzagrafika. hal. 145
[7]  Mohammad Ali, Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung, 1992, CV Sinar Baru. hlm. 127

[8] Sukardi, Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012), hlm. 56-57.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LAPORAN HASIL RISET TENTANG MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK MELALUI PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING DI MIS KURIPAN KIDUL

A.     PENDAHULUAN Sejak  bayi  anak  berkembang  secara  fisik,  mental,  sosial,  dan  emosional.  Kemampuan  anak berjalan,  berbicara...